Ruangan seluas 50 x 30 meter itu ramai oleh sorakan penonton. Mereka saling sahut-menyahut membunyikan yel-yel mereka, mendukung timnya masing-masing. Pukulan drum terus menghujani indera pendengaran. Pertandingan futsal antar sekolah ini semakin panas. Lawan mulai berapi-api mencetak skor di lapangan.
Club futsal SMA Nusa Bangsa sore ini menduduki posisi unggul. Semua bersorak riang penuh semangat, menyemangati para pemain yang mewakili sekolah. Naura dan dua sahabatnya sedari tadi sudah ada di sini untuk melihat tim futsal sekolah mereka. Tidak tahu ada angin dari mana, biasanya mereka tak tertarik mengikuti kegiatan seperti ini. Apalagi Naura.
Bahkan sejak pulang sekolah tadi, Zoddiena alias Oddie terus menanyakan keseriusannya mengenai ini. Dia masih tidak percaya. Sebuah hal langka Naura mau mengunjungi acara seperti ini. Mungkin kalau Grisella alias Gisel, jiwa nya memang bisa ada dalam keramaian. Kalo kata sekarang, extrovert. Ya sebenarnya, dia sebelas dua belas dengan Oddie. Berbeda dengan Naura yang separuh hidupnya lebih suka berada di ketenangan, sunyi, jauh dari keramaian. Introvert.
Sejak dua hari yang lalu Alvino menawarkan tiket, entah mengapa Naura sedikit tertarik dan penasaran. Padahal dia paling malas jika sudah berhadapan dengan keramaian, apalagi interaksi dengan laki-laki. Tapi entah angin apa yang membawanya pada rasa tertarik seperti itu. Jika bukan dirinya yang meng-iyakan tawaran Alvino, sepertinya dia sudah pulang bahkan tak akan pernah menginjakkan kaki di tempat ini.
“YEEEEYYYYY GOLL!!!!!” Teriakan Oddie menggema di sahuti oleh supporter.
“DY! Suara lo kenceng banget!” Protes Gisel.
“Hehehe maaf, seneng deh gue SMANSA menang lagi,”
Sebelum sempat Naura menanggapi, Alvino datang dari lain arah, menuju mereka.
“Eh sini Vin!” Sahutan Gisel dibalas anggukan oleh Alvino.
“Gimana nih rasanya menang?” tanya Gisel.
“Yaaa seneng lah, tapi gua aga takut sih di final nanti lawannya kuat banget,” jawab Alvino.
“Halah bisa lah, siapa yang berani ngalahin pesona lo se SMANSA sih, hahaha.”
Memang benar, para perempuan hampir satu sekolah tergila-gila karenanya. Itulah mengapa dirinya disebut salah satu primadona sekolah. Selain parasnya yang mampu membuat siapapun terpesona, Alvino juga memiliki bakat yang bagus dalam segi akademik maupun non akademik. Memang bibit unggul.