Sinar mentari bersinar terang sudah tak malu lagi menampakkan wujudnya. Langit sudah membiru beserta awan yang putih laksana kapas. Setelah menempuh jarak dua jam lamanya untuk sampai di puncak, akhirnya Mahes memarkirkan mobil putih milik Marka. Di tengah perjalanan tadi, Marka minta gantian. Akhirnya, Mahes yang mengemudi.

Kini mereka berlima sudah turun dari mobil dan menurunkan barang-barang milik mereka masing-masing kemudian disimpan di tenda yang sudah disediakan. Mahes dan Marka membantu Naura, Zoddiena, juga Grisella untuk menurunkan barang mereka.

Setelah kegiatannya selesai, Naura, Oddie, dan Gisel kembali ke outdoor untuk menghirup udara pagi yang segar. Ternyata, Mahes dan Marka pun melakukan hal yang sama.

Guys, mau foto gak? Langit di sini lagi cerah nih, bagus buat foto.” Ajak Oddie yang kemudian dijawab antusias oleh Gisel. “MAU MAU!! Emang wajib foto sih iniii, gimana kalo pake hp gue aja nih? Sini lo dulu, Dy.” Ujar Gisel lalu menarik lengan Oddie dan memposisikannya di spot yang berlatar gunung dengan sorot matahari yang cantik.

Begitu keluar dari tenda, atensi Mahes langsung tertuju pada ketiga gadis itu. Terlebih lagi, pada gadis yang memiliki rambut sedikit bergelombang yang diikat seperti ekor kuda olehnya. Mata cantiknya tersorot sinar mentari yang membuat kecantikannya semakin terpancar dari wajahnya. Semesta seolah mendukungnya untuk terus menatap gadis cantik itu. Kamera yang dia

Marka melihat pemandangan di sebelahnya. Temannya yang memiliki wajah lumayan sedikit lebih tampan darinya memandang lurus ke arah gadis di depan sana, tanpa berpaling sedikit pun. Jangankan berpaling, berkedip saja dia tidak. Memangnya se cantik itu ya? Batin Marka.

“Woy lu liatin siapa sih Hes serius amat,”

Teguran Marka membuat Mahes sadar dari lamunannya. Dia pun melirik kepada Marka. “Gak. Bukan siapa-siapa. Kesana yuk.” Langkah kakinya kini justru menuju tempat Naura berkumpul. Mahes mengayunkan tangannya sambil menenteng kamera digital yang ia bawa di tangan kanannya. “Ih aneh cok.” Ucap Marka setelah melihat tingkah temannya itu.

Naura sadar akan kehadiran Mahes yang datang menghampirinya secara tiba-tiba.

“Butuh jasa foto gak?” Mahes melontarkan pertanyaannya. Naura menggeleng.

“Nggak. Bisa pake hp aja,” jawabnya singkat.