Gelap telah sempurna menyelimuti langit. Meski begitu, hal tersebut tak membuat Mahes mengurungkan niatnya untuk menemui seseorang yang entah sejak kapan telah menjadi jantung hatinya.

Mahes menyatukan pengait helm yang telah dia kenakan. Menutup kaca helm lalu menarik tuas gas dan membelah lengangnya malam. Sepeda motor miliknya sempurna terparkir di depan halaman rumah Naura. Beberapa kali dirinya menimbang-nimbang untuk melangkah atau tidak, akhirnya dia turun dari motornya dan mengambil langkah lebih dekat dengan pintu pagar.

Ia dorong pintu pagar yang belum dikunci itu lalu melihat ke arah jendela di lantai dua rumah itu. Lampunya masih menyala, tandanya pemilik kamar itu belum tidur. Tangan kiri Mahes merogoh saku celana dan mengeluarkan ponsel miliknya.

Kontak yang ia tuju langsung terlihat begitu ia membuka Whatsapp, karena memang ia menempatkan kotaknya pada posisi paling atas—disematkan. Ia berniat mengabari Naura bahwa dirinya ada di depan rumahnya.

Baru saja dirinya hendak menekan bel, pintu rumah terbuka. Menunjukkan seorang wanita yang umurnya belum terlalu senja. Wanita itu tentu kebingungan, namun ekspresi nya langsung berubah begitu melihat paras Mahes. Mahes tentu saja berhasil dibuat kikuk olehnya. Entah situasi macam apa ini, rasanya terlalu cepat jika wanita yang berdiri di depannya adalah ibu dari Naura.

“Malam Tante…” Sapa Mahes canggung.

Wanita itu menyunggingkan senyum yang membuat matanya membentuk bulan sabit, persis seperti Naura. “Malam, ayo masuk. Mau ketemu Naura ya?” Balasnya.

Mahes mengangguk, “Iya Tante, Naura nya ada? Kebetulan ada urusan sebentar aja sih ngga akan lama, maaf kalo ganggu…”

Rhea mengulurkan tangannya untuk menepuk pundak Mahes. “Mau lama atau ngga, yang namanya tamu itu harus di ajak masuk dong, masa di luar aja. Yuk masuk dulu.” Tuturnya lembut yang hanya dijawab dengan anggukan kecil oleh Mahes.

Entah kenapa rasanya kaki Mahes berat untuk melangkah. Jantungnya berdegup lebih cepat dari tempo biasanya. Mungkin kalau teman-temannya ada di sini, mereka akan mengejeknya karena ekspresi Mahes yang jelas sekali terlihat gugup.