Hari semakin petang. Matahari sudah terlelap berganti dengan bulan yang mulai muncul. Semua tim futsal perwakilan dari berbagai sekolah tadi, setelah melakukan sesi foto mereka rapat sebentar mengenai jadwal final yang akan datang. Setelah semuanya selesai, satu persatu orang mulai berhamburan keluar Gor. Mengantre bergantian untuk keluar.

Tak sengaja, seseorang menabrak pundak Naura yang masih menunggu jemputan. Seorang lelaki tak jauh beda tingginya dengan dia—sekitar 158 cm. Berambut agak coklat, masih memakai baju futsal—sepertinya dia juga ikut bertanding. Nampaknya, dari cara jalannya dia sedang buru-buru.

“Heh! Ini jalan keluar! Lo jangan di situ. Ngehalangin jalan tau ga!” teriaknya. Naura hendak melawan, tapi sepertinya dia lebih tua, seperti kakak kelas. “Maaf kak, aku dari tadi emang di sini, tapi ini lumayan ada jarak kok dari pintu masuk, maaf kalo ngehalangin kakak.” “Ya emang.” Jawabnya ketus.

Perlahan semua atensi orang-orang mengarah pada mereka berdua. Bahkan sampai ada yang menghampiri mereka, mencari sumber keributan.

“Ada apasih anjir berisik banget? Itu kenapa pada kesana?” Tanya Alvino pada Galendra—teman satu club basket.

“Gua juga ga tau, lo liat sana gih,”

“Dih gua?” Tanya Alvino memastikan. Galendra hanya mengangguk sebagai jawaban. Alvino meninggalkan Galendra dan berjalan menuju sumber keributan.

Suaranya masih samar-samar terdengar, namun semakin dirinya maju, semakin jelas suara itu. Dia ingin menyimpulkan tapi masih dengan rasa ragu, hingga akhirnya dia memutuskan untuk melangkah lebih dekat lagi. Dan…benar. Tebakannya benar.

“Naura?” Pemilik nama itu menoleh ke arah pemilik suara yang memanggilnya barusan. Alvino menatapnya dengan wajah bingung.

“Lo ngapain masih di sini?” Katanya, namun teringat, Naura sedang butuh bantuan.

“Dia ngehalangin jalan.” Jafra dengan cepat menjawab.

Naura tak terima dengan tuduhan yang diberikan Jafra. Pasalnya, dari awal dia sudah minta maaf padanya namun lelaki itu tak menggubrisnya dan terus menyalahkannya. “Kak, udah aku bilang berapa kali, aku emang diem di sini dari tadi tapi posisi aku di pinggir dan lumayan ada jarak dari pintu masuk. Kakak bisa liat posisi kaki aku sekarang dimana.” Intonasinya sedikit tegas dan sinis, sehingga membuat lawan bicaranya semakin tersulut emosi. “Siapa lo berani nyolot sama gue?!”