Jalanan di Kota Bandung pagi ini terlihat lengang. Embun pagi menyertai langit yang belum membiru. Naura memandangi gunung-gunung yang menjulang tinggi dari balik kaca mobil milik Marka. Dia menautkan airpods miliknya di kedua telinganya lalu memutar lagu Sorai milik Nadin Amizah yang selalu menemaninya di kala kesunyiannya.

Tadi pagi, Marka menelepon Zoddiena meminta sharelock dari rumah Naura. Namun karena Oddie sedang sibuk memasukkan cemilan-cemilannya ke dalam tote bag, dia meminta Naura yang mengirimkan sharelock tersebut kepada Marka. Setelah satu jam menunggu, tepat pukul 6 pagi, mobil Marka terparkir di halaman rumah Naura. Dia tak datang sendiri, melainkan dengan temannya yang menjadi team mereka juga.

Mahes Pradipta, pemuda yang kini berusia 18 tahun itu duduk di kursi penumpang di sebelah Marka. Pagi ini, dia mengenakan kaos putih polos yang dibalut dengan jaket hitam lengan panjang kesayangannya. Lalu, dia memadukannya dengan celana training berwarna hitam juga sneakers hitam miliknya. Aroma musk dari tubuhnya menguar di setiap sudut mobil.

Marka yang turun membantu membawakan barang-barang Naura, Oddie, juga Gisel. Sedangkan Mahes, diam di dekat bagasi mobil dan menerima barang mereka lalu memasukkannya ke dalam bagasi. Mahes yang lebih dahulu masuk ke dalam mobil. Sehingga, Naura tak sempat melihat jelas wajah menawan milik Mahes. Dia banyak diam, tak sama sekali membuka suaranya.

Perlu diingat bahwa Naura memang sedari dulu jarang sekali ikut campur urusan sekolah yang menurutnya tidak terlalu penting. Gosip-gosip di sekolah pun, dia tau belakangan dari Gisel dan Oddie. Menurutnya, waktu istirahat lebih baik dia gunakan untuk belajar, belajar, dan belajar. Jarang sekali mengunjungi kantin, karena Rhea—wanita yang membuatnya lahir ke dunia, selalu menyiapkan bekal untuknya. Walaupun sibuk, dia tidak pernah lupa menyiapkan bekal untuk anak gadisnya. Walaupun sekarang anak gadisnya itu sudah menginjak 18 tahun, tapi di matanya, Naura tetaplah gadis kecil miliknya.

Setelah semuanya sudah lengkap masuk ke dalam mobil dan siap untuk berangkat, Marka kemudian melajukan mobilnya. Satu jam setelah itu, dua sahabat Naura terlelap dan sudah berpetualang ke alam mimpi masing-masing.

Hanya Naura, Marka, dan juga Mahes yang tidak mengantuk sama sekali. Keheningan mulai menyelimuti ketiganya. Namun Naura tak memedulikan hal itu, dia tetap memusatkan fokusnya pada alunan musik yang di denganya lewat airpods miliknya.

Di tengah keheningan, Marka membuka suaranya demi mencairkan suasana. “Nau, lo itu anak MIPA? MIPA berapa?” Tanya marka yang juga sedang mengemudi.

Naura menoleh, mematikan musik dari ponselnya lalu membuka airpodsnya. “Iya, gue MIPA satu.”

Marka ber-oh ria mendengarnya. “Eh btw gue waktu itu liat lo di gor futsal, lagi ngapain?” tanyanya lagi.