Saat ini tepat pukul 5 sore. Langit mulai teduh karena matahari mulai bersembunyi untuk beristirahat. Ghina sudah memakai dress hitam yang dipadukan dengan heels berwarna silver yang membuat dia semakin glamor. Step terakhir dalam persiapannya, dia memengoleskan lotion bengkuang ke tangannya. Tepat saat ia menutup tutup lotion, suara klakson mobil berbunyi kencang dari depan kos an.

TTTTTTTTTT!

CK! Dasar manusia gak sabaran. Gak bisa banget kalo gak berisik,” Ghina menggerutu sambil memasukkan barang barangnya ke dalam tas. Kini ponsel yang ada di atas meja belajarnya berdering nyaring.

“Apa Nay?”

“CEPET GHINA GUE UDAH DI DEPAN!!! KITA TELAT!”

“Iya anjir berisik. Sabar dong, princess gabisa jalan cepet cepet,”

“IH NAUDZUBILLAH, MERINDING GUE!!!” Nayara terus meneriaki Ghina dari seberang telepon namun tak ia hiraukan.

Ghina mematikan teleponnya dan bergegas menemui Nayara sebelum temannya itu berubah menjadi singa liar dan mengacak ngacak kamar kos nya.

Dibukanya pintu mobil depan sebelah kiri. “Selamat sore Nayara yang cantik, makasih ya udah jemput princess,” Katanya sambil memonyongkan bibir.

Nayara hanya memutar bola matanya malas dan menatapnya jijik. “Ada yang ketinggalan gak barang lo? Nanti berabe di sana lo uring uringan.” Ujar Nayara mengingatkan. Ghina hanya menggeleng sebagai jawaban. Setelah keduanya siap, Nayara menancap gas lalu menarik tuas kendali.

Setibanya di lokasi acara, Ghina terus memastikan tempat yang mereka kunjungi adalah benar. “Nay, gak salah nih di sini acaranya?” Nayara mengangguk. “Makannya gue maksa lo buat ikut.” Kini temannya itu malah tersenyum geli lalu melayangkan sebuah pukulan kecil di paha Nayara. “ANJIR YA LO! SAKIT TAU!” Nayara meringis sambil mengusap usap bekas pukulan Ghina yang melayang di pahanya.

“AAAAAAAAAAAAA I LOVE YOU SO MUCH SUMPAH NAY GUE SAYANG BANGET SAMA LO!!!” Nayara memutar bola matanya. Dia tau, pasti sahabatnya itu akan lebih lebih gila dari biasanya hari ini. “Udah lo jangan norak. Jangan kayak bocah baru puber. Selama acara, lo jangan kemana mana matanya.”