Senja sudah berganti malam dari tiga jam yang lalu. Mahes masih terjaga dari tidurnya. Tak sedikitpun dia berkeinginan untuk memejamkan matanya. Yang ada, dia mengirim pesan kepada temannya dan langsung membawa kunci motor yang tergeletak di atas meja putih. Mulutnya tak berhenti menghisap asap dari batang yang ia pegang dengan dua jarinya. Langkahnya sudah sampai di depan halaman rumah. Terlihat, motor abu bermerek Kawasaki Ninja H2R masih terparkir rapi di depan rumahnya. Sengaja belum ia masukkan ke dalam garasi karna sepertinya ia sudah punya rencana untuk keluar malam-malam begini.
Dengan kecepatan 30 kilometer dirinya mampu menembus kota Bandung yang kini suhunya mencapai 16° celcius. Kebetulan, malam ini kota kesayangannya itu nampak sepi. Tak ramai kendaraan yang berlalu lalang seperti biasanya. Mahes mengerem motornya mendadak ketika seseorang memberhentikannya.
Dibalik helm hitamnya, Mahes melihat seseorang sedang menolong seekor kucing yang mendadak hendak menyebrangi jalan raya itu. Seorang perempuan yang sepertinya berusia tak jauh darinya. Rambutnya diikat, seperti kuncir kuda. Dirinya berpakaian santai, mengenakan celana tidur bermotif kupu-kupu seperti hendak ke minimarket. Mengenakan sendal jepit berwarna pink. Jaket abu yang membalutnya sepertinya cukup membuat dirinya hangat.
Sudah beres dengan urusannya, perempuan itu menoleh ke arah Mahes dan berkata, “Sorry gue stop mendadak. Kucingnya udah gue amanin, lo boleh pergi sekarang. Thanks.”
Tanpa menjawab, Mahes lantas melanjukan motornya dengan kecepatan yang lebih tinggi karna mungkin teman-temannya sudah menunggunya di sana.