Gadis berambut cokelat tua itu membuka pintu pagar yang dibiarkan tak terkunci. Di depan rumah mewah itu terparkir mobil hitam yang tampak elegan dilihatnya. Naura terus mengedarkan pandagannya ke sekitar rumah itu. Dia tampak kagum dengan interior yang tersusun rapi nan megah di sana.
“SAYA GAK SUDI PUNYA ANAK KAYAK KAMU!”
Percakapan itu terdengar sampai keluar. Entah siapa pemilik suara berat tersebut. Naura yang mendenganya sungguh terkejut hingga jantungnya berdegup lebih kencang. Dia takut salah masuk rumah. Buru-buru dia membuka ponselnya untuk kembali menghubungi orang yang akan dia jumpai. Namun usahanya tak membuahkan hasil karena nomor yang dia tuju tidak aktif.
Naura kembali mengecek lokasi yang dikirimkan oleh Mahes. Dan sepertinya dia memang sudah benar. Rumah yang ada di gambar maps nya pun sangat mirip dengan rumah yang sedang ia masuki ini. Dia memutuskan untuk menunggu di sebuah kursi panjang di dekat lampu taman.
Dia memutuskan untuk memainkan ponselnya sambil menunggu Mahes menghampirinya. Namun telinganya selalu saja tak sengaja mendengar percakapan dari dalam rumah yang terdengar sampai ke luar. Dan Naura sadar, isi percakapan itu bukanlah hal yang boleh diketahui orang lain. Naura kembali memfokuskan dirinya pada ponsel yang ia genggam. Dia sungguh menyesal tidak membawa airpods.
Selang beberapa menit, pintu rumah terbuka menampilkan seorang pria tua keluar dengan wajah yang muram serta langkah yang tergesa-gesa. Naura beranjak dari tempat duduknya dan membungkuk pada pria itu. Pria itu sempat menoleh sebentar lalu masuk ke dalam mobil hitam miliknya tanpa berniat bertanya sedikit pun. Raut wajahnya bahkan nampak tidak bersahabat.
Setelah pria itu pergi, akhirnya Mahes menghampiri Naura sambil tersenyum. “Kelamaan ya nunggunya? Sorry ya lagi berisik.”
“Emm… nggak kok gue baru sampe. Ini jaket lo, udah wangi udah gue cuci. Thanks ya udah mau pinjemin.” Mahes menatapnya kosong. Tatapannya seperti memiliki banyak arti yang tak bisa Naura tafsirkan sendiri.
Naura tak mau memperpanjang tatapan itu. Dirinya segera memutus keheningan yang mulai melanda mereka. “Gue pulang dulu ya Hes.” Belum sempat dirinya melangkah, tangannya terlebih dahulu digenggam oleh Mahes. Naura menatap genggaman itu yang kemudian buru-buru dilepas oleh Mahes.
“Ada yang mau diomongin?” Mahes mengangguk lemah. Terlihat sekali dari sorot matanya yang menyimpan banyak luka. Bahunya yang lebar dipaksa harus menopang banyak beban.