Setengah jam berlalu menunggu Daren—kekasih Zoddiena—itu datang. Hujan di luar sudah mulai reda, tersisa rintik-rintik hujan yang gemas. Hot choccolatte menemani mereka di tengah rintik hujan ini. Rasanya bisa menghangatkan tubuh di cuaca yang dingin sore ini.
“Girl, Daren udah chat gue, ayo tunggu di lobby aja.” Ajak Oddie pada dua temannya dan diberi anggukan sebagai jawaban.
Akhirnya mobil milik Daren berhenti tepat di depan pintu masuk. Mereka bertiga bergegas masuk ke dalam mobil karna hujannya ternyata mulai deras lagi. Tak sempat memperhatikan sekitar, mereka bertiga sibuk mengeringkan tubuhnya dari air hujan yang membasahi tubuh mereka. Setelah kesibukannya itu beres, Naura menghadap kaca jendela demi melihat pemandangan hujan di kota Bandung. Jalan raya penuh dengan air hujan dan kendaraan yang padat. Oh, jangan lupakan klakson mobil yang sangat mengganggu indra pendengaran.
“Sayang bentar ya aku mau anterin dulu temen,” ujar Daren kepada Oddie. “Okay, eh tapi ini searah deh sama rumah Naura, jadi sekalian aja.” Oddie sudah hafal betul rumah Naura karna minimal seminggu sekali dia mampir ke rumahnya bersama Gisel. Entah untuk nugas bareng, atau hanya sekedar mampir.
“Thanks ya bro, gue **tinggal dulu.” Suara lelaki itu menginterupsi kegiatan Naura yang sedang menatap ke luar jendela. Pasalnya, dari tadi tak ada suara lelaki selain Daren. Dia tahu, ada dua lelaki di mobil ini. Tapi dari tadi yang bicara hanya Daren, jadi dia pikir, lelaki yang satunya ini tak kenal dengan mereka bertiga. Sedari tadi hanya ada beberapa percakapan, suara klakson, dan suara hujan yang terdengar dari dalam mobil.
Namun, yang menjadi masalah adalah dia mengenal suara lelaki yang berterima kasih pada Daren tadi. Naura saling tatap dengan kedua temannya. Oddie juga ternyata baru menyadarinya.
“Hah suaranya kok mirip…”
“Ah bukan kali mirip aja,”
“Eh bentar deh tapi badannya juga mirip jir..”
“Anjir apa jangan-jangan iya?”
“Iya kali Nau,”
“Kok bisa sih orang ini ada di sini?”
“Dari tadi gue semobil sama si brengsek ini?”
“Gatau…”